Tinggalkan komentar

Life Is A Style?

Oleh Ustadz Dr. Muham­mad Arifin bin Baderi, M.A.

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senan­tiasa dilim­pahkan kepada Nabi Muham­mad, keluarga dan shahabat­nya. Amiin.

Saudaraku, Anda per­nah men­dengar motto: “Life is a style?” Atau mung­kin Anda ter­masuk yang ter­ins­pirasi oleh motto ini? Kalau Anda adalah orang Jawa, saya yakin Anda diajari motto: “ajining rogo soko busono” (harga diri ter­cer­min dari pakaian).”

Saudaraku! Coba Anda bayangkan, apa per­asaan Anda ketika sedang ber­penam­pilan per­lente, semer­bak wangi, pakaian, sepatu, jam tangan, tas dan lain seba­gainya serba ber­merek, dengan harga selangit.

Bahkan, tidak jarang dari saudara kita yang ber­ang­gapan bahwa agar penam­pilan­nya lebih sem­purna, ia masih perlu untuk menyisipkan sebatang rokok putih di bibirnya.

Kereen, waah, dan penuh per­caya diri. Kira-kira begitulah per­asaan yang ber­gemuruh dalam jiwa Anda kala itu. Bukankan demikian saudaraku?

Sebalik­nya: Bayangkan Anda sedang ber­penam­pilan gem­bel, baju compang-camping, san­dal jepit, ber­jalan di salah satu pusat belanja ter­sohor di kota Anda. Bagaimana per­asaan Anda saat itu? Mung­kin­kah saat itu Anda bisa tam­pil dengan per­caya diri dan tetap menegakkan kepala, apalagi mem­busungkan dada?

Saudaraku! Anda per­nah ber­kun­jung ke Cibaduyut-Bandung? Betapa banyak produk dalam negeri dengan mutu eks­por seret di pasaran dalam negeri. Program cinta produk dalam negeri senan­tiasa kan­das, dan hanya sebatas isapan jem­pol sesaat, dan segera sirna.

Sebalik­nya, ber­ba­gai produk dalam negri setelah diberi lebel oleh per­usahaan asing, begitu laku di pasar, dan ten­tunya dengan harga yang ber­lipat ganda.

Saudaraku! Mari kita merenung sejenak, dan ber­tanya: Sejatinya, harga diri saya ter­letak di mana? Mung­kin­kah harga diri saya ter­letak pada pakaian, sepatu, jam, dan ber­ba­gai produk lainnya?.

Bila jawaban­nya tidak, lalu meng­apa ketika ber­belanja Anda memilih barang dengan merek-merek ter­kenal yang har­ganya selangit? Padahal banyak merek lain, produk dalam negeri, mutu yang sama dan ten­tunya dengan harga yang jauh lebih murah tidak masuk dalam nominasi daf­tar belanja Anda?

Saudaraku! Atau mung­kin­kah keper­cayaan diri Anda ter­letak pada sepun­tung rokok yang tidak lama lagi akan Anda injak dengan sepatu Anda?

Betapa seng­saranya diri Anda bila Anda ber­ang­gapan bahwa harga diri dan keper­cayaan Anda hanya tum­buh bila Anda meleng­kapi diri Anda dengan ber­ba­gai produk orang lain. Sehingga, bila pada suatu saat Anda tidak dileng­kapi dengan ber­ba­gai aksesoris, Anda merasa kurang per­caya diri atau bahkan ren­dah diri.

Bahkan, kalaupun Anda dileng­kapi dengan ber­ba­gai aksesoris mewah yang Anda miliki, maka Anda akan kem­bali merasakan ren­dah diri tat­kala ber­hadapan dengan orang yang meng­enakan aksesoris lebih wah diban­ding yang Anda kenakan.

Dan sudah barang tentu, bila harga diri Anda ter­letak pada aksesoris yang melekat pada diri Anda, maka tidak lama lagi harga diri Anda akan keting­galan zaman alias expire date.

Ketahuilah saudaraku, sejatinya harga diri Anda ter­letak pada jiwa Anda. Harga diri Anda ter­pan­car dari iman dan ketakwaan Anda kepada Allah. Bila Anda adalah orang yang ber­jiwa besar, benar memiliki harga diri, maka Anda tetap per­caya diri, walau tidak dileng­kapi oleh ber­ba­gai aksesoris mewah dan ber­merek. Harga diri Anda ter­letak pada iman dan kedekatan Anda kepada Allah Ta’ala.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesung­guh­nya Kami men­cip­takan kamu dari seorang laki-laki dan seorang per­em­puan dan men­jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesung­guh­nya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling ber­taqwa di antara kamu. Sesung­guh­nya Allah Maha Meng­etahui lagi Maha Meng­enal.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam men­jalankan Haji Wada’ ber­sama umat Islam yang kala itu kira-kira ber­jum­lah 100.000 jamaah haji, beliau menegaskan hal ini dengan berkata,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِىٍّ عَلَى أَعْجَمِىٍّ وَلاَ لِعَجَمِىٍّ عَلَى عَرَبِىٍّ وَلاَ لأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى. رواه أحمد

“Wahai umat manusia, sesung­guh­nya Tuhan kalian adalah Mahaesa, dan ayah kalian satu (yaitu Nabi Adam). Ketahuilah, bahwa tidak ada kelebihan bagi orang Arab diban­ding non-arab, tidak pula bagi non-Arab atas orang Arab, tidak pula bagi yang ber­kulit putih kemerahan diban­ding yang ber­kulit hitam, tidak pula sebalik­nya bagi yang ber­kulit putih atas yang ber­kulit putih kemerahan, kecuali dengan kataqwaan.” (Hadits riwayat Ahmad).

Pada suatu hari, sahabat Umar bin Al-Khatthab menangis, karena menyak­sikan pung­gung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bergaris-garis setelah ber­baring di atas tikar daun kurma. Ia ber­kata, “Wahai Rasulullah, sesung­guh­nya Raja Per­sia dan Romawi ber­gelimang dalam kemewahan, sedangkan eng­kau adalah utusan Allah demikian ini hal­nya.” Men­dengar ucapan sahabat­nya ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمَا الدُّنْيَا وَلَكَ الآخِرَةُ. متفق عليه

“Tidak­kah eng­kau merasa puas bila mereka men­dapatkan kenik­matan dunia, sedangkan eng­kau men­dapatkan kenik­matan di akhirat?” (Mut­tafaqun ‘alaih).

Jawaban ini begitu mem­bekas pada jiwa sahabat Umar bin Al-Khaththab, sehingga beliau benar-benar menerap­kan­nya dalam kehidupan. Sam­paipun setelah beliau men­jadi khalifah, dan ber­hasil menun­dukkan kerajaan Per­sia dan Romawi yang dahulu ia begitu kagum dengan kekayaannya, setelah umat Islam ber­hasil meng­uasai Baitul Maqdis, khalifah Umar bin Khat­thab radhiallahu ‘anhu datang ke sana guna menan­datangani surat per­jan­jian dengan para pemuka pen­duduk setem­pat, sekaligus menerima kunci pintu Baitul Maqdis. Beliau datang dengan meng­enakan sarung, sepatu kulit, dan imamah. Pada saat beliau hen­dak menyeberangi sebuah parit yang penuh dengan air meng­alir, beliau turun dari unta dan tanpa rasa sungkan sedikitpun beliau menun­tun tung­gangan­nya tersebut.

Melihat penam­pilan beliau yang demikian itu, sebagian pasukan mus­limin yang ikut serta men­jem­put kehadiran beliau ber­kata, “Wahai Amirul Muk­minin, eng­kau akan disam­but oleh pasukan dan para pen­deta Syam, sedang penam­pilanmu semacam ini?” Beliau men­jawab, “Sesung­guh­nya, hanya dengan Islam­lah Allah memuliakan kita, karenanya kita tidak akan men­cari kemuliaan dengan jalan selain­nya.” Riwayat Ibnu Abi Syaibah.
Dan pada riwayat Al-Hakim ber­liau sahabat Umar berkata,

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ

“Sesung­guh­nya, kita dahulu adalah kaum paling hina, kemudian Allah memuliakan kita dengan agama Islam, maka setiap kali kita ber­usaha men­cari kehormatan/ kemuliaan dengan selain agama Islam, pasti Allah akan menim­pakan kehinaan kepada kita.”

Demikianlah hal­nya bila seseorang telah menemukan harga dirinya dalam jiwanya. Ia tidak merasa ber­kurang harga dirinya, karena kurang­nya aksesoris yang melekat pada dirinya, dan ia juga tidak ber­tam­bah per­caya diri karena ber­ba­gai aksesoris yang ter­semat pada dirinya.

Pada peperangan Qadisiyah, pasukan umat Islam yang ber­jum­lah 30.000 per­sonal, di bawah komando sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas, meng­hadapi pasukan Per­sia yang ber­jum­lah 200.000 per­sonal. Sebelum peperangan dimulai, panglima per­ang Per­sia meminta agar umat Islam meng­utus seorang juru run­ding guna ber­un­ding dengan­nya. Memenuhi per­min­taan ini, sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas meng­utus Rib’i bin ‘Amir.

Setibanya Rib’i di per­ten­daan Panglima Per­sia yang ber­nama Rus­tum, ia men­dapatkan tenda Rus­tum telah dihiasi dengan per­madani ber­hiaskan emas, sutra, per­mata, intan ber­lian dan hiasan indah lainnya.

Sedangkan Rus­tum dengan meng­enakan mah­kota dan ber­ba­gai aksesoris mewah lain­nya, telah duduk menung­gunya di atas kursi yang ter­buat dari emas. Sedangkan Ribi’i datang dengan meng­enakan pakaian yang kedodoran karena kebesaran, menen­teng sebilah pedang, sebatang tom­bak, per­isai, dan menung­gangi kuda yang pen­dek. Ribi’i terus ber­jalan sam­bil menung­gangi kudanya, hingga kudanya meng­in­jak ujung per­madani tenda Rus­tum. Selan­jut­nya, ia turun dan menam­batkan kudanya di beberapa ban­tal san­daran yang ada di tenda Rus­tum. Ia maju meng­hadap ke Rus­tum dengan tetap menen­teng pedang­nya, meng­enakan baju dan topi besinya.

Menyak­sikan ulah Ribi’i ini, sebagian pengawal Rus­tum meng­hardik­nya dengan ber­kata, “Letakkan sen­jatamu!” Tanpa gen­tar, Rabi’i menang­gapi hardikan itu dengan ber­kata, “Bukan aku yang ber­inisiatif untuk datang ke tem­pat kalian, akan tetapi kalian yang meng­un­dangku untuk datang. Bila kalian tidak suka dengan caraku ini, maka aku akan kem­bali.” Men­dengar per­debatan ini, Rus­tum ber­kata, “Biakan ia masuk.”

Tat­kala Rib’i dizinkan masuk, tidak diduga, ia meng­hun­jamkan tom­bak­nya ke setiap ban­tal san­daran sutra yang ia lalui. Setiba dihadapan Rus­tum, ia ber­tanya kepada Ribi’i, “Apa tujuan kalian datang kemari?” Ribi’i segera men­jawab dengan tegas, “Kami datang untuk mem­bebaskan umat manusia dari per­budakan kepada sesama manusia, menuju kepada per­ibadatan kepada Allah, dari him­pitan hidup dunia kepada kelapangan hidup di akhirat, dari penin­dasan tokoh-tokoh agama, ke dalam naungan keadilan agama Islam. Allah meng­utus kami untuk menyebarkan agama-Nya kepada seluruh umat manusia. Barang­siapa yang menerima seruan kami, maka kami menerima keputusan­nya itu dan kamipun segera kem­bali ke negeri kami. Sedangkan orang yang enggan menerima seruan kami, maka kami akan memeranginya, hingga kita ber­hasil meng­gapai janji Allah.”

Spontan Rus­tum dan pasukan­nya kem­bali ber­tanya, “Apa janji Allah untuk kalian?” Ribi’i men­jawab, “Orang yang gugur dalam per­juangan ini men­dapatkan Surga dan kejayaan bagi yang selamat.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah oleh Ibnu Katsir, 7/46–47).

Demikianlah, bila harga diri seseorang ter­tanam kuat dalam jiwanya. Ia tidak men­jadi gen­tar atau ren­dah diri walaupun penam­pilan­nya serba pas-pasan, sedangkan lawan bicaranya leng­kap dengan ber­ba­gai aksesoris yang menyilaukan mata.

Saudaraku! Anda bisa bayangkan, andai Anda dengan per­leng­kapan yang ditugaskan untuk menemui panglima per­ang Per­sia dengan per­leng­kapan yang demikian itu, kira-kira bagaimana per­asaan dan sikap Anda?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ. رواه مسلم

“Bisa saja seseorang ber­penam­pilan kumuh, selalu diusir orang karena diang­gap remeh, akan tetapi bila ia ber­sum­pah memohon kepada Allah, maka Allah pasti memenuhi per­mohonan­nya.” (Hadits riwayat Muslim).

Sebalik­nya! Walaupun ber­ba­gai aksesoris yang ber­kilau, indah nan mahal har­ganya telah melekat pada diri Anda, akan tetapi Anda jauh dari Allah, ber­gelimang dalam kemak­siatan, maka kehinaan akan melekat selalu di kening Anda.

Al-Hasan Al-Bashri berkata,

إِنَّهُم ـ يعني أَهْلَ المَعَاصِي وَالذُّنُوبِ ـ وَإِنْ هَمْلَجَتْ بِهِمُ البَرَاذِيْنُ وَطَقْطَقَتْ بِهِمُ البِغَالُ ، إنَّ ذُلَّ المَعْصِيَةِ لَفِي قُلُوبِهِمْ، أَبَى اللهُ إِلاَّ أَنْ يُذِلَّ مَنْ عَصَاهُ

“Sesung­guh­nya, mereka –para pelaku kemak­siatan dan dosa– walaupun menung­gangi kuda yang gagah, dibuat melenggak-lenggok oleh keledai yang mereka tung­gangi, akan tetapi kehinaan akibat amal kemak­siatan senan­tiasa melekat di hatinya. Allah tidak akan menim­pakan kepada orang yang ber­mak­siat kepanya-Nya kecuali kehinaan.”

Haram­kah Anda Ber­pakaian Bagus?

Saudaraku! Mung­kin Anda ber­tanya: bila demikian, apa itu artinya umat Islam harus ber­penam­pilan kumuh, kusut, tidak rapi dan mening­galkan segala kein­dahan dunia?

Tidak demikian saudaraku! Besarkan hati Anda, tidak perlu kawatir, anda tetap dibenarkan untuk men­cicipi ber­ba­gai kein­dahan dunia. Dan bahkan sebalik­nya, ber­bang­galah men­jadi umat Islam, karena Allah Ta’ala men­cip­takan segala isi dunia tiada lain kecuali untuk kepen­tingan Anda.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً

“Dialah Allah yang men­jadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqarah: 29).

Pada ayat lain Allah berfirman,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Katakanlah, ‘Siapakah yang meng­haramkan per­hiasan dari Allah yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang meng­haramkan) rezeki yang baik.’ Katakanlah, ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang ber­iman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari Kiamat.’ Demikianlah Kami men­jelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang meng­etahui.” (QS. Al-A’raf : 32).

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ. رواه مسلم

“Tidak masuk Surga orang yang di hatinya ter­dapat sebesar debu dari kesom­bongan.” Spontan salah seorang sahabat Nabi ter­kejut dan ber­tanya, “Sesung­guh­nya ada orang yang suka bila ber­pakaian bagus, dan meng­enakan sen­dal yang bagus pula.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menang­gapi per­tanyan ini dengan ber­sabda, “Sesung­guh­nya Allah Mahain­dah, men­cin­tai kein­dahan. Kesom­bong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (Hadits riwayat Muslim).

Pen­dek kata: Harga diri Anda hanya ada di dalam jiwa Anda. Bila Anda ber­jiwa besar karena dekat dengan Allah Yang Mahabesar dan Agung, sum­ber segala kebesaran, maka tanpa aksesoris yang macam-macampun Anda tetap per­caya diri. Sebalik­nya, bila jiwa Anda kerdil karena jauh dari Allah Yang Mahabesar dan Agung, maka apapun aksesoris yang Anda sematkan pada diri Anda, maka tidak akan dapat meng­ang­kat derajat Anda. Per­cayalah saudaraku!

Di antara aplikasi nyata keyakinan ini Anda akan selalau mem­beli segala kebutuhan Anda tepat guna dengan harga yang tepat pula dan tidak per­nah mem­beli produk hanya karena per­tim­bangan merek­nya.
Seba­gaimana Anda tidak men­jadi latah dengan tren yang sedang ber­kem­bang di masyarakat. Anda tetap per­caya diri walaupun aksesoris yang Anda kenakan telah expire date, karena Anda per­caya bahwa harga diri Anda ter­letak pada iman dan takwa Anda yang tidak per­nah kadaluwarsa.

Akhir­nya, saya mohon maaf bila ada kata-kata saya yang kurang ber­kenan, semoga Allah Ta’ala melim­pahkan kemurahan-Nya kepada kita semua, sehingga kita men­jadi hamba-Nya yang besar karena besar­nya iman yang melekat di dada.

Wallahu a’alam bis­shawab.

Sum­ber : http://www.stdiis.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: